Friday, January 11, 2013

RAGAM DAN LARAS BAHASA

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat ALLAH SWT yang melimpahkan rahmat taufik dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “RAGAM DAN LARAS BAHASA” salawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW yang telah mengarahkan kita ke jalan yang lurus, yakni addinul islam.
Makalah ini di susun dan di ajukan untuk memenujhi salah satu persyaratan mengikuti proses belajar mengajar antara mahasisiwa dan dosen di SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI.
Selama penyusunan dan pembuatan makalah ini, kami banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak dengan penuh keikhlasan. Oleh karena itu pada kesempatan ini kai mengucapkan terima kasih yang sebanyak banyaknya kepada:
1.       FAHMI GUNAWAN. S.S, M. Hum. Selaku dosen pembimbing mata kuliah bahasa indonesia
kami menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun sangat kami harapkan dalam pembuatan makalah selanjutnya.
Akhirnya kami berharap agar makalah ini dapat di terima, dan bermanfaat bagi kami serta bagi para pembaca pada umumnya. Amin.........


Kendari,               2012












DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................   i
DAFFAR ISI................................................................................................   ii

BAB I        PENDAHULUAN
1.     Latar Belakang......................................................................   1
2.     Rumusan Masalah.................................................................   2
3.     Tujuam Pembahasan.............................................................   2
BAB II       PEMBAHASAN
1.     Ragam Bahasa.......................................................................   3
2.     Laras Bahasa.........................................................................   7
BAB III      PENUTUP
1.     Kesmpulan............................................................................   12
2.     Saran....................................................................................   12










BAB I
PENDAHULUAN

1.     Latar belakang
Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara (Bachman, 1990). Yang biasa digunakan di kalangan terdidik, di dalam karya ilmiah (karangan teknis, perundang-undangan), di dalam suasana resmi, atau di dalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam bahasa baku atau ragam bahasa resmi.
          Menurut Dendy Sugono (1999 : 9), bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa indonesia, timbul dua masalah pokok,yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku.Dalam situasi remis,seperti di sekolah,di kantor,atau didalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku.sebaliknya dalam situasi tak resmi,seperti dirumah,di taman,dipasar,kita tidak dituntut menggunakan bahasa baku.
         Ditinjau dari media atau sarana yang digunakan untuk menghasilkan bahasa,yaitu (1) ragam bahsa lisan, (2) ragam bahasa tulis.bahasa yang dihasilkan melalui alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar dinamakan ragam bahasa lisan,sedangkan bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya,dinamakan ragam bahasa tulis.jadi dalam ragam bahasa lisan,kita berurusan dengan lafal,dalam ragam bahasa tulis,kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan).selain itu aspek tata bahasa dan kosa kata dalam kedua jenis ragam itu memiliki hubungan yang erat.ragam bahasa tulis yang unsur dasarnya huruf,melambangkan ragam bahasa lisan.oleh karena itu,sering timbul kesan bahwa ragam bahasa lisan dan tulis itu sama.padahal kedua jenis ragam bahasa itu berkembang menjadi sistem bahasa yang memiliki seperangkat kaidah yang tidak identik benar,meskipun ada pula kesamaannya.meskipun ada keberimpitan aspek tata bahasa dan kosa kata,masing-masing memiliki seperangkat kaidah yang berbeda satu dari yag lain.
2.     Rumusan masalah
Untuk mencari pengertian dari Ragam bahasa dan laras bahasa dan tempat penggunaan bahasa baku dan bahasa tidak baku pada tempatnya.

3.     Tujuan pembahasaan
Seiring perkembangan zaman maka terjadi perkembangan ragam bahasa dan laras bahasa pada masyarakat,sehinggga memicu penggunaan bahasa tidak baku pada saat situasi resmi.oleh karena itu penulis mengangkat judul ragam bahasa dan laras bahasa.
















BAB II
PEMBAHASAN

A.   Ragam bahasa
      Didalam bahasa indonesia disamping dikenal kosa kata baku indonesia dikenal pula kosa kata bahasa indonesia ragam baku,yang alih-alih disebut sebagai kosa kata baku bahasa indonesia baku.kosa kata bahasa indonesia ragam baku atau kosa kata bahasa indonesia baku adalah kosa kata baku bahasa indonesia,yang memiliki ciri kaidah bahasa indonesia ragam baku,yang di jadkan tolak ukur yang di tetapkan berdasarkan kesepakatan penutur bahasa indonesia,bukan otoritas lembaga atau intansi didalam menggunakan bahasa indonesia ragam baku.jadi,kosa kata itu digunakan didalam ragam baku bukan ragam santai atau ragam akrab.walaupun demikian,tidak tertutup kemungkinan digunakannya kosa kata ragam baku didalam pemakaian ragam-ragam yang lain asal tidak mengganggu makna dan rasa bahasa ragam yang bersangkutan.
         Suatu ragam bahasa,terutama ragam bahasa jurnalistik dan hukum,tidak tertutup kemungkinan untuk menggunakan bentuk kosa kata ragam bahasa baku agar dapat menjadi anutan bagi masyarakat pengguna bahasa indonesia.dalam pada itu perlu yang perlu diperhatikan ialah kaidah tentang norma yang berlaku yang berkaitan dengan latar belakang pembicaraan (situasi pembicaraan),pelaku bicara,dan topik pembicaraan (Fishman ed., 1968;Spradley,1980).


Menurut Felicia (2001:8),raga bahasa dibagi berdasarkan:
1.    Media pengantarnya atau saranannya,yang terdiri atas:
a.     Ragam lisan.
b.    Ragam tulis.
               Ragam lisan adalah bahasa yang diujarkan oleh pemakai bahasa.kita dapat menemukan ragam lisan yang standar,misalnya pada saat orang berpidato atau memberi sambutan,dalam situasi perkuliahan,ceramah; dan ragam lisan yang nonstandar,misalnya dalam percakapan antarteman,dipasar,atau dalam kesempatan nonformal lainnya.
             Ragam tulis adalah bahasa yang ditulis atau tercetak.ragam tulispun dapat berupa ragam tulis yang standar maupun nonstandar.ragam tulis yang standar kita temukan dalam buku pelajaran,teks,majalah,surat kabar,poster,iklan.kita juga dapat menemukan ragam tulis  nonstandar dalam majalah remaja,iklan,atau poster.
2.    Berdasarkan situasi dan pemakaian
Ragam bahasa baku dapat beerupa : (1) ragam bahasa baku tulis dan (2) ragam bahasa baku lisan.dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis makna kalimat yang diungkapkan tidak ditunjang oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan unsur kalimat.oleh karena itu,dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis diperlukan kecepatan dan ketetapan didalam pemilihan kata,penerapan kaidah ejaan,struktur bentuk kata dan struktur kalimat,serta kelengkapan unsur-unsur bahasa didalam struktur kalimat.


Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelepasan kalimat.Namun,hal itu tidak mengurangi cirri kebakuannya.walaupun demikian,ketepatan dalam pilihan didalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicaraan menjadi pendukung didalam memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan.
     Pembicaraan lisan dalam situasi formal berbeda tuntutan kaidah kebakuannya dengan pembicaraan lisan dalam situasi tidak formal atau santai.jika ragam bahasa lisan dituliskan,ragam bahasa itu tidak dapat disebut sebagai ragam tulis,tetapi tetap disebut sebagai ragam lisan,hanya saja diwujudkan dalam bentuk tulis.oleh karena itu,bahasa yang dilihat dari ciri-cirinya tidak menunjukkan cirri-ciri ragam tulis,walaupun direalisasikan dalam bentuk tulis,ragam bahasa serupa itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis.kedua ragam itu masing-masing,ragam tulis dan ragam lisan memiliki cirri kebakuan yang berbeda.
      Contoh perbedaan ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis(berdasarkan tata bahasa dan kosa kata):
1.    Tata bahasa
(Bentuk kata,tata bahasa,struktur kalimat,kosa kata)
a.     Ragam bahasa lisan :
-         Melyana sedang baca surat kabar
-         Ari mau nulis surat
-         Tapi kau tidak boleh nolak lamaran itu.
-         Mereka tinggal di Menteng.
-         Jalan laying itu mengatasi kemacetan lalu lintas.
-         Saya akan tanyakan soal itu

b.    Ragam bahasa tulis :
-         Melyana sedang membaca surat kabar
-         Ari mau menulis surat
-         Namun,engkau tidak boleh menolak lamaran itu.
-         Jalan layang itu dibangun untuk mengatasi kemacetan lalu lintas.
-         Akan saya tanyakan soal itu.
2.    Kosa kata
Contoh ragam lisan dan tulis berdasarkan kosa kata :
a.     Ragam lisan
-         Rani bilang kalau kita harus belajar
-         Kita harus bikin karya tulis
-         Rasanya masih terlalu pagi buat saya,pak
b.    Ragam tulis
-         Rani mengatakan bahwa kita harus belajar
-         Kita harus membuat karya tulis.
-         Rasanya masih terlalu muda bagi saya,pak.


Istilah lain yang menggunakan selain ragam bahasa baku adalah ragam bahasa standar,semi standard an nonstandart.
a.     Ragam standar,
b.    Ragam nonstandard
c.     Ragam semi standar.

Bahasa ragam standar memiliki sifat kemantapan berupa kaidah dan aturan tetap.akan tetapi,kemantapan itu tidak bersifat kaku.ragam standar tetap luwes sehingga memungkinkan perubahan dibidang kosa kata,peristilahan,serta mengizinkan perkembangan berbagai jenis laras yang diperlukan dalam kehidupan modem (Alwi,1998:14).
Pembedaan antara ragam standar,nonstandard,dan semi standar dilakukan berdasarkan :
a.     Topik yang sedang dibahas,
b.    Hubungan antar pembicara,
c.     Medium yang digunakan,
d.    Lingkungan atau
e.     Situasi saat pembicaan terjadi
Ciri yang membedakan antara ragam standar,semi standard an nonstandard :
-         Penggunaan kata sapaan dan kata ganti,
-         Penggunaan kata tertentu,
-         Penggunaan imbuhan,
-         Penggunaan kata sambung (konjungsi),dan
-         Penggunaan fungsi yang lengkap.
Penggunaan kata sapaan dan kata ganti merupakan ciri pempeda ragam standard an ragam nonstandard yang sangat menonjol.kepada orang  yang kita hormati,kita akan cenderung menyapa dengan menggunakan kata Bapak,Ibu,Saudara,Anda.jika kita menyebut diri kita,dalam standar kita akan menggunakan kata saya atau aku.dalam ragam nonstandard,kita akan menggunakan kata gue.
Penggunaan kata tertentu merupakan cirri lain yang sangat menandai perbedaan ragam standard dan ragam nonstandard.Dalam ragam standar,digunakan kata-kata yang merupakan bentuk baku atau istilah dan bidang ilmu tertentu.penggunaan imbuhan adalah ciri lain.dalam ragam standar kita harus menggunakan imbuhan secara jelas dan teliti.
Penggunaan kata sambung (konjungsi) dan kata depan (preposisi) merupakan cirri pembeda lain.dalam ragam nonstandar,sering kali kata sambung dan kata depan dihilangkan.kadang kala,kenyataan ini meengganggu  kejelasan kalimat.
Contoh : (1) Ibu mengatakan,kita akan pergi besok
(ia) ibu mengatakan bahwa kita akan peergi besok
Pada contoh (1) merupakan ragam semi standard an diperbaiki contoh (ia) yang merupakan ragam standar.
Contoh : (2) Mereka bekerja keras menyelesaikan pekerjaan itu.
                (2a) Mereka bekerja keras untuk menyelesaikan     pekerjaan itu.
Kalimat (1) kehilangan kata sambung (bahwa),sedangkan kalimat (2) kehilangan kata depan (untuk).dalam laras jurnalistik kedua kata ini sering dihilangkan.hal ini menunjukkan bahwa laras jurnalistik termasuk ragam semi standar.
Kelengkapan fungsi merupakan cirri terakhir yang membedakan ragam standard an nonstandard.artinya,ada bagian dalam kalimat yang dihilangkan karena situasi sudah di anggap cukup mendukung pengertian.dalam kalimat-kalimat yang nonstandar itu,predikat kalimat dihilangkan.seringkali pelepasan fungsi terjadi jika kita menjawab pertanyaan orang.misalnya, Hai, ida,mau kemana?” “pulang.” Sering kali juga kita menjawab “tau.” Untuk menyatakan ‘tidak tau.’ Sebenarnya,pembedaan lain,yang juga muncul,tetapi tidak disebutkan diatas adalah intonasi.Masalahnya,pembeda intonasi ini hanya ditemukan dalam ragam lisan dan tidak terwujud dalam ragam tulis.

B.Laras Bahasa
          Pada saat digunakan sebagai alat komunikasi,bahasa masuk dalam berbagai laras sesuai dengan fungsi pemakaianya.jadi, laras bahasa adalah kesesuaian antara bahasa dan pemakaianya.dalam hal ini kita mengenal iklan, laras ilmiah,laras populer,laras featue,laras komik,laras sastra, yang masih dapat di bagi atas laras cerpen, laras puisi,laras novel, dan sebagainya.
Setiap laras memiliki cirinya sendiri dan memiliki gaya tersendiri. Setiap laras dapat di sampaikan secara lisan atau di tulis dalam bentuk standar, semi standar,atau nonstandar. Laras bahasa yang akan kita bahas pada kesempatan ini adalah laras ilmiah.
2.laras ilmiah
Dalam uraian di atas di katakan bahwa setiap laras dapat di sampaikan dalam ragam standar, semi standar, atau nonstandar. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan laras ilmiah. Laras ilmiah harus selalu menggunakan ragam standar.
          Sebuah karya tulis ilmiah merupakan hasil rangkaian gagasan yang merupakan hasil pemikiran, fakta,  peristiwa, gejala, dan pendapat. Jadi, seorang penulis karya ilmiah menyusun kembali berbagai bahan informasi menjadi sebuah karangan yang utuh. Oleh sebab itu, penyusun atau pembuat karya ilmiah tidak di sebut pengarang melainkan di sebut penulis (soeseno,1981: 1).
Dalam uraian di atas dapat di bedakan antara pengertian realitas dan fakta. Seorang pengarang akan merangkaikan realita kehidupan dalam sebuah cerita. Sedangkan seorang penulis akan merangkaikan berbagai fakta dalam sebuah tulisan. Realistis berarti bahwa peristiwa yang di ceritakan merupakan hal yang benar dan dapat dengan mudah di buktikan kebenaranya, tetapi tidak secara langsung di alami oleh penulis. Data realistis dapat berasal dari dokumen, surat keterangan,press release, surat kabar atau sumber bacaan lain,bahkan suatu peristiwa faktual. Faktual berarti rangkaian peristiwa atau percobaan yang di ceritakan benar-benar dilihat di rasakan, dan dialami oleh penulis (Marahimin, 1994:378).
          Karya ilmiah memiliki tujuan dan khalayak sasaran yang jelas.meskipun demikian, dalam karya ilmiah, aspek komunikasi tetap memegang peranan utama. Oleh karenanya, berbagai kemungkinan untuk penyampaian yang komunikatif tetap haru dipikirkan. Penulisan karya ilmiah bukan hanya untuk mengekspresikan pikiran tetapi untuk menyaikan hasil penelitian. Kita harus dapat meyakinkan pembaca akan kebenaran hasil yang kita temukan di lapangan. Dapat pula, kita menubangkan sebuah teori berdasarkan hasil penelitian kita. Jadi, sebuah karya ilmiah tetap harus dapat secara jelas menyampaikan pesan pada pembacanya.
          Persyaratan bagi sebuah tulisan untuk di anggap sebagai sebuah karya ilmiah adalah sebagai berikut (brotowidjoyo, 1988: 15-16).
1.    Karya ilmiah menyajikan fakta objektif secara sistematis atau menyajikan aplikasi hukum alam pada situasi spesifik.
2.    Karya ilmiah di tulis secara cermat,tepat,jujur, dan tidak bersifat terkaan. Dalam pengertian jujur terkandung sikap etik penulisan ilmiah, yakni penyebutan rujukan dan kutipan yang jelas.
3.    Karya ilmiah di susun secara sistematis, setiap langkah di rencanakan secara terkendali, konseptual, dan prosedual.
4.    Karya ilmiah menyajikan rangkaian sebab-akibat dengan pemahaman dan alasan yang indusif yang mendorong pembaca untuk menarik kesimpulan.
5.    Karya ilmiah mengandung pandangan yang di sertai dukungan dan pembuktian berdasarkan suatu hipotetis.
6.    Karya ilmiah ditulis secara tulus. Hal itu berarti bahwa karya ilmiah hanya mengandung kebenaran faktual sehingga tidak akan memancing pernyataan benada keraguan. Penulis karya ilmiah tidak boleh memanipulasi fakta, tidak bersifat ambisius dan berprasangka. Penyajian tidak boleh bersifat emotif.
7.    Karya ilmiah pada dasarnya bersifat ekspositoris. Jika pada akhirnya timbul kesan argumentatif dan persuasif, hal itu di timbulkan oleh penyusunan kerangka karangan yang cermat. Dengan demikian, fakta dan hukum alam di terapkan pada situasi spesifik itu di biarkan berbicara sendiri. Pembaca di biarkan mengambil kesimpulan sendiri berupa pembenaran keyakinan dan keyakinan akan kebenaran karya ilmiah tersebut.  
Berdasarkan uraian di atas,dari segi bahasa, dapat di katakana bahwa karya ilmiah memiliki tiga ciri yaitu:
1.  harus tepat tunggal makna, tidak remang nalar atau mendua makna
2. harus secara tepat mendefinisikan setiap istilah, sifat, dan pengertian yang di gunakan, agar tidak menimbulkan kerancuan atau keraguan
3. harus singkat, berdasarkan ekonomi bahasa.

Disamping persyaratan tersebut di atas, untuk dapat di publikasikan sebagai karya ilmiah ada ketentuan struktur atau format karangan yang kurang lebih bersifat baku. Ketentuan itu merupakan kesepakatan sebagaimana tertuang dalam internasional standardization organization  (ISO).  Publikasi yang tidak mengindakan ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam ISO memberikan kesan bahwa publikasi itu kurang valid sebagai terbitan ilmiah (soehardjan,1997 :10). Struktur karya ilmiah (soehardjan, 1997 :38) terdiri atas judul, nama penulis, abstrak, pendahuluan,bahan dan metode, hasil pembahasan, kesimpulan, ucapan terimakasi dan daftar pustaka.ISO 5966 (1982) menetapkan agar terdiri atas judul, nama penulis, abstrak, kata kunci, pendahuluan, inti tluisan ( teori metode, hasil, dan pembahasan), simpulan, dan usulan, ucapan terimakasih, dan daftar pustaka (soehardjan, 1997 :38).
3.ragam bahasa keilmuan
          Menurut sunaryo, (1994 :). Bahwa dalam kita berkomonikasi, perlu di perhatikan kaidah-kaidah berbahasa, baik yang berkaitan keebenaran kaidah pemakaian bahasa sesuai dengan konteks situasi, kondisi, dan sosio budayanya. Pada saat kita berbahasa, baik lisan maupun tulis, kita selalu memperhatikan factor-faktor yang menentukan bentuk-bentuk bahasa yang kita gunakan. Pada saat menulis, misalnya kita selalu memperhatikan siapa pembaca tulisan kita, apa yang kita tulis, apa tujuan tulisan itu, dan di media apa kita menulis. Hal yang perlu mendapat perhatian terssebut merupakan faktoer penentu dalam berkomunikasi. faktor-faktor penentu berkomunikasi meliputi: partisipan, topik latar, tujuan, dan saluran (lisan atau tulis)
          Partisipan tutur ini berupa PI yaitu pembicara/penulis dan P2 yaitu pembaca atau pendengar tutur. Agar pesan yang di sampaikan dapat terkomunikasikan dengan baik, maka pembaca atau penulis perlu (a) mengetahui latar belakang pembaca/pendengar, dan(b) memperhatikan hubungan antara pembicara/penulis dengan pendengar/pembaca. Hal itu harus di ketahui agar pilihan bentuk bahasa digunakan tepat, disamping agar pesanya dapat tersampaikan, agar tidak menyinggung perasaan, menyepelehkan, merendahkan dan sejenisnya.
          Topik tutur berkenaan dengan masalah apa yang di sampaikan penutur ke penanggap penutur. Penyampaian topik tutur dapat di lakukan secara: (a) naratif (peristiwa, perbuatan, cerita), (b) deskriptif (hal-hal faktual : keadaan, tempat barang, dsb.), (c). ekspositoris, (d) argumentatif dan persuasif.
Ragam bahasa keilmuan mempunyai ciri:
(1) Cendekia : bahasa Indonesia keilmuan itu mampu digunakan untuk mengungkapkan hasil berfikir logis secara cepat.
(2)  Lugas dan jelas : bahasa Indonesia keilmuan di gunakan untuk  menyampaikan gagasan ilmiah secara jelas dan tepat.
(3)  Gagasan sebagai pangkal tolak : bahasa Indonesia keilmuan di gunakan dengan orientasi gagasan. Hal itu berarti   penonjolan diarahkan   pada gagasan atau hal-hal yang di ungkapkan, tidak pada penulis.
(4) Formal dan objektif : komunikasi ilmiah melalui teks ilmiah merupakan komunikasi formal. Hal ini berarti bahwa unsure-unsur bahasa Indonesia yang di gunakan dalam bahasa Indonesia keilmuan adalah unsur-unsur bahasa yang berlaku dalam situasi formal atau resmi. Pada lapis kosa kata dapat di temukan kata-kata yang berciri formal dan kata-kata yang berciri informal (syafi’ie, 1992: 8-9).
Contoh:
 berciri formal kata berciri informal
Korps korp
Berkata bilang
Karena lantaran
Suku cadang onderdil

4. laras ilmiah populer
          Laras ilmiah populer merupakan sebuah tulisan yang bersifat ilmiah, tetapi di ungkapkan dengan cara penuturan yang mudah di mengerti. Karya ilmiah populer tidak selau merupakan hasil penelitian ilmiah. Tulisan itu dapat berupa petunjuk teknis, pengalaman dan pengamatan biasa yang di uraikan dengan metode ilmiah. Jika karya ilmiah harus selalu di sajikan dalam ragam bahasa yang standar, karya ilmiah dapat di sajikan dalam ragam bahasa yang standar, semi standar dan nonstandar. Penyusun karya ilmiah populer akan tetap di sebut penulis bukan pengarang, karena proses penyusunan karya ilmiah populer sama dengan proses penyusunan karya ilmiah. Pembedaan terjadi hanya dalam cara penyajianya.
          Seperti di uraikan di atas, persyaratan berlaku bagi sebuah karya ilmiah berlaku pula bagi karya ilmiah populer. Akan tetapi, dalam kaya ilmiah populer terdapat pula persoalan lain, seperti kritik terhadap pemerintah, analisi atas suatu peristiwa yang sedang populer di masyarakat, jalan keluar bagi persoalan yang sedang di hadapi masyarakat, atau sekedar informasi baru yang ingin di sampaikan kepada masyarakat.
          Jika karya ilmiah memiliki struktur yang baku, tidak demikian halnya dengan karya ilmiah populer. Oleh karena itu, karya ilmiah populer biasanya di sajikan dalam media surat kabar dan majalah, biasanya, format penyajianya mengikuti format  yang berlaku dalam laras jurnalistik. Pemilihan topik dan perumusan tema harus di rumuskan dengan cermat. Tema itu kemudian di kerjakan dengan jenis karangan tertentu, misalnya narasi, eksposisi, argumentsi, atau deskripsi. Secara lebih rinci lagi, penulis dapat mengembangkan gagasanya dalam berbagai bentuk pengembangan paragraph seperti pola pemecahan masalah, pola kronologis, pola perbandingan, atau pola sudut pandang.



BAB III
PENUTUP

1.    Kesimpulan
Ragam bahasa aslah variasi penggunaan bahasa tergantung dari topik yang sedang di bicarakan dengan kawan bicara maupun pada saat situasi resmi. Kadang penggunaan bahasa yang ragam bahasa yang baik banyak di gunakan oleh kalangan terdidik, kalangan pejabat, maupun kalangan pengusaha. Sedangkan laras bahasa adalah kesesuaian bahasa dan fungsi pemakainya, dalam hal ini laras bahasa menitik beratkan pada media penggunaanya.


2.    Saran
Lebih memberikan pengenalan ragam bahasa dan laras bahasa pada masyarakat terutama pada anak-anak dan remaja untuk mengurangi terjadinya penyimpangan-penyimpangan kaidah bahasa dan penggunaan bahasa tidak baku yang bukan pada tempatnya.

 

1 comment:

  1. Betfair - betting tips and stats for Wigan | Mapyro
    Betfair Sports is titanium 170 welder proud to 출장안마 present you with the World's croc titanium flat iron Leading Sports Betting and Entertainment Website, which provides hypoallergenic titanium earrings a variety titanium hair straightener of sports

    ReplyDelete